Sejarah Paroki

Pada tanggal 4 Juni 2026, Gereja Katolik Santo Yusup Jember genap berusia 98 tahun. Di usianya yang mendekati seabad, Paroki Santo Yusup tetap kokoh berdiri dan siap untuk terus berkarya di tengah-tengah umat Jember.
Sembilan puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, banyak di antara kita masih belum mengetahui sejarah terbentuknya paroki kita tercinta ini. Berikut adalah uraian dari sejarah terbentuknya Paroki Santo Yusup Jember.

I. DARI ORDO YESUIT KE ORDO KARMEL

Pada tanggal 19 Februari 1923, Gereja Katolik Roma mengeluarkan Breve Sacra Congregatio de Propaganda Fide di Roma. Dalam dokumen surat keputusan dari Departemen Kepausan untuk Urusan Pewartaan Iman, Paus menawarkan kepada Pimpinan Ordo Karmel di Roma (Jenderal Elias Magennis, O.Carm) agar mengambil-alih sebagian daerah misi (Vikariat Apostolik Betawi) dari para imam Ordo Yesuit (karmelindonesia. org., 2011). Tawaran ini diteruskan kepada Pimpinan Provinsi Ordo Karmel Nederland (Provinsial Dr. Cyprianus Verbeek, O.Carm) dan disambut baik oleh Pimpinan Ordo Karmel. 
Daerah yang dipercayakan kepada Ordo Karmel adalah wilayah bagian timur Provin-si Jawa Timur yang meliputi Karesidenan Malang, Karesidenan Besuki, dan Pulau Ma-dura dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ketiga misionaris yang ditunjuk oleh Pimpinan Provinsi Ordo Karmel Nederland untuk me-ngelola wilayah tersebut ialah Pater Clemens van der Pas, O.Carm., Pater Paschalis Breukel O.Carm., dan Pater Linus Henckens O.Carm.
Setelah menerima tugas perutusan sebagai misionaris dari Kardinal W. van Rossum (prefek Congregatio de Propaganda Fide) dan mendapat berkat dari Paus Pius XI, mereka berangkat ke Nederlandsch Indie dan tiba di Batavia (Jakarta) pada 30 Juni 1923. Pada tanggal 6 Juli 1923 para misionaris Ordo Karmel tiba di Malang.
Kedatangan misionaris Ordo Karmel di Malang menandakan telah berakhirnya karya misio-ner para Imam Yesuit. Perpisahan imam-imam Yesuit dengan umat Paroki Malang diadakan pada tanggal 1 Agustus 1923 di Aula Suster Ursulin. Dua hari kemudian tepatnya pada tanggal 3 Agustus 1923 upacara “serah teri-ma” antara imam Yesuit dengan para imam Ordo Karmel diadakan. Dalam upacara serah terima itu, Pater L. Sondaal S.J. mewakili para imam Yesuit dan Pater Clemens van der Pas O.Carm. mewakili para imam Ordo Karmel.
Dengan demikian, sejak saat itu daerah misi Jawa Timur bagian timur dikelola dan dikembangkan oleh para imam dari Ordo Karmel yang berpusat di Malang.

II. Dari Stasi Probolinggo Menuju Jember 

Gereja Probolinggo disahkan sebagai stasi pada tanggal 7 April 1924. Gedung gereja stasi Probolinggo diresmikan dengan pemberkatan yang dilakukan oleh Pastor Clemens van der Pas pada tanggal 27 Desember 1924.
Catatan-catatan penting sehubungan dengan Stasi Probolinggo dapat ditemukan dalam buku “Sejarah Gereja Katolik Indonesia” tepanya di Kronik Keuskupan Surabaya. Pada tahun 1913, para imam Karmelit yang bertugas di Probolinggo membeli sebidang tanah. Kemudian, di atas sebidang tanah ini para imam Karmelit membangun Gereja Probolinggo.
Pada tahun 1913, Pastor Linus Henckens, O.Carm. yang merupakan “Pastor Perjalanan Dinas” dari Probolinggo melanjutkan karya misioner ke daerah Jember dan sekitarnya (santo-yusupjember.blogspot.com., 2017). Di Jember, beliau menjumpai banyak orang Katolik yang tersebar di berbagai daerah tanpa memperoleh pendampingan dari seorang pastor. Mereka adalah para pekerja di perkebunan-perkebunan. Mayoritas mereka berkebangsaan Belan-da (keturunan Belanda), Belgia, Inggris, Amerika, dan Jerman.
Melihat kenyataan ini, Pastor Linus Henckens, O.Carm. mencoba merintis sebuah stasi. Namun sayangnya, catatan mengenai waktu pelaksanaan perayaan ekaristi untuk pertama kalinya di daerah ini tidak diketahui.
Pada awal mulanya, hari kunjungan pastor di daerah Jember dilakukan secara bebas. Apabila kunjungan dilakukan pada hari biasa, Pastor Linus Henckens, O.Carm. mengadakan perayaan ekaristi di rumah seorang karyawan Katolik SS (Staats Spoorwegen). Apabila kunjungan dilaku-kan pada hari Minggu, Perayaan Ekaristi diada-kan di gedung Pengadilan Negeri (Landraad) atau di rumah Asisten Residen (Kantor Pemerintah Daerah). Selama melakukan kunjungan, Pastor Linus Henckens, O.Carm. menginap di Hotel Jember yang kini telah beralih fungsi menjadi Gedung BRI.
Selain melakukan karya misionaris di Jember, Pastor Linus Henckens, O.Carm. juga melakukan kunjungan ke daerah Sukoreno. Kunjungan ini dilakukan setelah beliau mendapat-kan informasi dari Pastor Frennthaler, S.J. Di daerah Sukoreno, beliau menjumpai puluhan keluarga Katolik yang berasal dari Mendut, Jawa Tengah yang sudah lama tidak mendapat pelayanan ekaristi. Sebe-lumnya, warga Katolik Sukoreno mendapat pelayanan dari Pastor Prenntthaler, S.J. Untuk sementara waku, beliau tinggal di sana bersama warga Katolik Sukoreno. Kemudi-an, beliau melaporkan bahwa Sukoreno bisa menjadi stasi harapan. Akhirnya, harapan itu terwujud dengan diberkatinya sebuah gedung Standaard School bersama dua ruang kelas untuk tempat ibadat darurat. Pemberkatan ini dilakukan pada tanggal 24 Mei 1926. Pada tanggal 20 Oktober 1936, dua ruang kelas tempat ibadat darurat tersebut direnovasi dan kemudian diberkati untuk dijadikan se-buah Kapel Stasi Sukoreno.

Ill. Sumber Sejarah Gereja Santo Yusup Melalui Surat Baptis

Sejarah gereja Santo Yusup juga dapat ditelu-suri dari data yang ditemukan pada Buku Baptis Gereja Kayutangan Malang. Data yang dimaksud adalah data keluaraga H.J.M. Francken dan istri Catharina Dies Lorgion serta ketiga anak mereka Laurine Maria Francken, Catharina Aletta Maria Franckend, dan Marjoleine Ignatio Maria Francken. Tang-gal 27 Februari 1918 H.J.M. Francken menikah dengan Catharina Fiest Lorgion yang sehari sebelumnya dipermandikan. Permandiannya dicatat di Gereja Hati Kudus Kayutangan dengan No. Buku Baptis: LB III/pg.40/no.18 pada tanggal 26 Februari 1918 oleh Pastor H.A. Fisscher S.J. Perkawinan mereka dicatat di Gereja Hati Kudus Kayutangan dengan No.Buku Perkawinan: LM I/pg.64 oleh Pastor H. Van Meerwijk, S.J.
Data anak-anak mereka: Laurine Maria Francken lahir pada tanggal 25 November 1919 di Malang dan dipermandikan pada hari itu juga di Gereja Hati Kudus Kayutangan dengan No. Buku Baptis: LB III/pg.124/no.120. Catharina Aletta Maria Francken dilahirkan pada tanggal 26 Desember 1921 di Kalied-jompo, Jember dan dipermandikan di Jember. Namun, surat permandiannya tetap dicatat di Gereja Hati Kudus Kayutangan-Malang dengan No. Buku Baptis: LB III/pg.231/nо.11. Hal itu terjadi karena Jember belum menja-di Paroki sendiri. Marjoleine Ignatio Maria Francken lahir dan dipermandikan di Jember pada tahun 1928. Datanya sudah tercatat di Jember sebab pada tahun 1927 Jember sudah diangkat menjadi Paroki. Namun, sayangnya, data tersebut tidak dapat ditemukan karena arsip Paroki Jember mulai tahun 1927 hingga tahun 1945 hilang pada saat pendudukan Jepang (durante bello perditi).

IV. Pembelian Tanah untuk Pembangunan Gereja dan Pastoran Jember

Sejarah mencatat bahwa tahun 1919 pernah ada usaha dari paroki untuk membeli se bidang tanah untuk pembangunan Gereja dan Pastorannya. Sejumlah uang telah diterima dari Vikaris Apostolik Betawi (Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen, S.J.) untuk pembelian tanah itu. Namun, usaha itu “gagal”. Transaksi jual-beli tanah memang terealisasi tetapi kemudian tanah itu dijual lagi. “Kegagalan” ini dimungkinkan karena lokasi itu dianggap kurang cocok. Tanah itu berlokasi di sebelah pertokoan Johar/Matahari Mall.
Pada tanggal 4 September 1926 Toean van der Pas (direktur Carmelstichting = Yayasan Karmel Malang) dengan perantaraan H.E.Rookmaker (Hoofdopzichter Pengairan Bondowoso) dan C. Smits (Architect di Malang) membeli sebidang tanah sawah dari Raden Ario Widjojo Koesoemo. Letaknya berada di Schoolstraat No. 20 Jember Kidul (sekarang Jalan R.A. Kartini No. 26, 28, 30). No. Registernya: Lt. C. No. 329. Lebarnya “1 baoe 6 roe / 506 roe” (= 7180 meter persegi) dengan surat ukur No. 261/15 November 1926. Pemegang hak adalah Yayasan Karmel dengan sertifikat Hak Milik Tanah No.603/W.No.430/1967. 
Pada tanggal 16 Juli 1927 peletakan batu pertama oleh Pastor Clemens van der Pas, O. Carm. untuk pembangunan gereja dan pastoran dilakukan. Pada tanggal 11 Maret 1928 bangunan pastoran dan gereja diresmikan dengan pemberkatan meriah oleh Mgr. Clemens van der Pas, O.Carm. Pada tanggal 4 Juni 1928 Jember diresmikan sebagai paroki yang berlindung di bawah naungan Santo Yusup. Pastor paroki pertama yang menetap di Jember adalah Pastor Lucas van der Linden, O. Carm.

V. Bentuk Bangunan Gereja Paroki Santo Yusup

Pada awal mulanya, Gereja Katolik Paroki Santo Yusup Jember dibangun dengan corak seni Gotik. Menara loncengnya dibangun dengan tembok batu bata merah. Jendela-jendelanya terbuat dari kaca berwarna (glas in loodra-men). Atapnya berasal dari sirap. Tiga kapela (dakkapellen) terpasang di atas atap Gereja sebelah kiri dan kanan.
Namun, gereja yang telah berdiri dengan anggun itu pada akhirnya harus mengalami kerusakan berat pada saat pendudukan Je-pang (1942-1945). Ini adalah masa kelam bagi paroki kita. Bersamaan dengan itu, Pastor Xaverius Vloet, O.Carm. yang bertugas menja-di Pastor Paroki ditawan oleh tentara Jepang. Meski mengalami musibah, pertemuan umat dan Perayaan Ekaristi tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Untuk sementara waktu, kegiatan kegerejaan dipindahkan di rumah Bapak E. Santoso di Jalan Diponegoro Gang VIII.
Setelah Jepang kalah perang pada Perang Dunia Il, kegiatan kembali diadakan di gereja.Renovasi gereja pun dilakukan secara bertahap mulai tahun 1950-an dengan mengala-mi banyak perubahan bentuk. Bahan genteng sirap yang antik diganti dengan genteng biasa. Tembok Gereja dan Pastoran yang bermotif batu bata merah diubah menjadi tembok biasa.
Pada tahun 1974, pemugaran gereja dilakukan kembali. Pemugaran kali ini juga disertai dengan melakukan perluasan gedung gereja.Hal itu dilakukan karena perkembangan jumlah umat di Paroki Santo Yusup ini semakin banyak.
Renovasi berikutnya dilakukan pada tanggal 27 Juni 1990. Seusai direnovasi, Gereja Santo Yusup diberkati oleh Uskup Malang Bapak Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm pada tanggal 15 Desember 1990.
Pada bulan Januari 2007, gereja kembali direnovasi dengan memberikan penambah-an kanopi di depan Gereja. Hal ini dilakukan karena jumlah umat semakin banyak sehingga gereja tidak mampu menampung seluruh umat di dalamnya. Selain itu, penambahan lain juga tampak pada pemasangan patung Santo Yusup sebagai pelindung paroki di depan gereja dan dua nabi besar, yakni Nabi Elia dan Nabi Elisa yang menghiasi kanan-kiri gereja.

VI. Gereja Santo Yusup Jember Seputar Perang Dunia Il

Suatu berita yang menggembirakan ditemu-kan di seputar puluhan tahun pertama. Pada 6 Februari 1935, Mgr. Joan Panico (Delegatur Apostolik Australasie, Sydney) memberitahu-kan bahwa Pater A.E.J. Albers, O.Carm. diangkat sebagai Prefek Apostolik untuk Prefektur Apostolik Malang. Surat Propaganda Fide berlaku per tanggal 18 Januari 1935. Pelantikannya dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 1935.
Empat tahun kemudian tepatnya pada tanggal 15 Maret 1939 /A.A.S./ XXXI/1939/213 keluarlah Dekrit Tahta Suci Paus Pius XII. Dekrit itu berisi mengenai peningkatan Prefektur Apostolik Malang menjadi Vikariat Apostolik Malang. Dengan demikian, A.E.J. Albers, O.Carm. diangkat menjadi Vikaris Apostolik pertama.
Pada waktu itu Mgr. Joan Panico berada di Hindia Belanda (Nederlandsh Indie) untuk kunjungan di Wilayah Misi Katolik di Nederlandsh Indie yang masuk wilayah “Delegatur Australasie”. Mgr. Joan Panico bertindak sebagai Consecrator (pentahbis utama) pada tahbisan Uskup A.E.J. Albers, O.Carm. Mgr. Joan Panico didampingi oleh Mgr. P. Willekens, S.J. (Vikaris Apostolik Batavia) dan Mgr. J. Aerts, MSC (Vikaris Apostolik Ned. Nieuw Quines). Tahbisan uskup ini dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 1939. Pada pentahbisan itu, gereja merayakan Hari Raya Santo Laurentius Martir. 
Sebulan kemudian, Pater Albertus Gondowardoyo O.Carm. datang ke Jember. Beliau masuk Novisiat di Boxmeer-Nederland pada tanggal 8 September 1932. Pada tahun itu, ia sekaligus mengikrarkan kaul pertamanya. Pada tanggal 10 Juli 1938 ia ditahbiskan men-jadi imam di Seminari Agung Ordo Karmel di Merkelbeek, Nederland.
Mendekati Perang Dunia Il tepatnya pada bulan Mei 1940, ia berangkat ke Indonesia (Jawa) sebagai imam Karmelit yang kedua. Di sinilah kabar sukacita tadi berubah menjadi kabar sedih (berita duka). Waktu pendudukan Jepang, Pater Albertus Gondowardoyo, O.Carm. ditangkap oleh KENPETAI (polisi rahasia Jepang) atas “tuduhan” memberi bantuan kepada beberapa keluarga “keturunan Belanda’. Romo Albertus, O.Carm. dibawa ke kamp interniran (penjara suka miskin) Bandung. la meninggal di kamp itu pada tanggal 15 Maret 1945 (pemberitahuan baru disampaikan pada pertengahan Oktober 1945).
Selama pendudukan Jepang dan perjuangan Kemerdekaan Indonesia, kegiatan misioner (kegiatan Gereja, paroki, sekolah) menjadi
“lumpuh”. Hubungan komunikasi antara Pusat (Malang) dengan kota-kota lain dan antarko-ta dengan stasi-stasi di pedalaman hampir terputus. Pada zaman kependudukan Jepang, Gereja Paroki Jember ditempati “Angkatan Laut Jepang” dan mengalami kerusakan yang cukup parah.
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia Il, tenaga-tenaga Misi yang masih hidup di- pulangkan kembali ke biara masing-masing. Na-mun, beberapa bulan kemudian, mereka kem-bali “dipanggil/diinternir” untuk siap siaga.
Pada waktu itu diadakan Perayaan Ekaristi un-tuk pertama kali tanggal 21 Januari 1945 yang dirayakan bersama dengan Pastor Gerardus Majella Singgih Padmowijoto, O.Carm. (pu-tera Indonesia pertama yang menjadi imam Karmelit yang ditahbiskan pada tanggal 11 Juli P 1937 di Nederland). Pada Perayaan Ekaristi itu Gereja Paroki Jember masih “kosong” karena interiornya hilang akibat dampak perang.
Pada awal tahun 1950 renovasi Gereja Paroki Jember, baik di dalam maupun di luar telah selesai. Namun, Pastor Paroki Leo Scheurink, O.Carm. belum sampai melunasi seluruh pembiayaannya karena peristiwa pengguntingan uang. Pada tanggal 20 Maret 1950, pemerin-tah Indonesia mengumumkan “penyehatan” di bidang keuangan. Karena yang menjadi Per-dana Menteri adalah Syarifuddin, peristiwa disebut “gunting Syarifuddin” (=Sanering atau penguntingan uang rupiah). Potongan rupiah sebelah kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah tetapi nilainya tinggal separuh. Pengguntingan dilakukan pada tanggal 19 Maret 1950, tepat Hari Raya Pesta Pelindung Paroki Santo Yusup.
Pada tahun 1950-an, Gereja Paroki Santo Yu-sup Jember mengadakan renovasi. Bagian-bagian gereja yang direnovasi meliputi atap, kamar pengakuan, tembok gereja, dan tiga kapela. Atapnya yang terbuat dari “kayu sirap” mulai bocor dan perlu diganti. Sebagai gantinya, atap gereja menggunakan genteng cap karang pilang yang punya daya tahan lama. Konstruksi atap dari besi tetap dipertahankan dengan dilakukan penambahan usuk reng untuk pemasangan atap yang baru. Kemu-dian, kamar pengakuan disatukan dengan gereja induk. Tembok gereja yang dahulunya menampilkan dinding batu bata ekspos kini dinding batu batanya dilapisi dengan semen. Tiga kapela yang berada di sebelah kanan dan kiri tidak lagi dipasang. Inilah renovasi perta-ma (tak terhitung renovasi sesudah ditempati tentara Jepang).
Pada tanggal 4 April 1957, Gereja Katolik Santo Yusup Jember mengadakan prosesi Palma.Rute perjalanannya dimulai dari Gereja Paroki menuju halaman SMAK Santo Paulus di Jalan Trunojoyo dan kembali lagi ke gereja. Misa Agung ini dipersembahkan oleh Mgr. A.E.J. Albers, O.Carm.
Pada bulan Juni 1968, bangku komuni di Gere-ja Paroki Jember dibongkar. Pembongkaran ini menandai dilaksanakannya Pembaharuan Liturgi setelah Konsili Vatikan II. Tempat itu kemudian dipakai sebagai tambahan tempat duduk umat.
Beberapa hal perlu dictat di seputar masa itu. Salah satunya adalah ditahbiskannya dua putera Karmel yang berasal dari Paroki Jem-ber pada tanggal 1 Juli 1966. Mereka adalah Alexander Maria Tjioe Kian Tjhoen, O.Carm. (biasa dipanggil Pastor Carolus, O.Carm.) dan Marcellinus Rudolf Liem Bian Song, O.Carm. Lima tahun setelah pentahbisan, Pastor Carolus, O.Carm. dipanggil Tuhan di Selat Madura pada tanggal 6 Juni 1971. Jenazah-nya tidak ditemukan sampai sekarang. Pastor Marcellinus Rudolf Liem Bian Song, O.Carm. juga dipanggil Tuhan. la meninggal dunia di Sidikalang, Sumatera Utara, pada tanggal 30 Juli 1971 karena terkena serangan Malaria.

VII. RENCANA PEMEKARAN PAROKI SANTO YUSUF JEMBER

Rencana pemekaran masa depan paroki Santo Yusup Jember pernah diseminarkan pada tanggal 21 Mei 1989. Seminar ini diselenggrakan oleh para sarjana dan cendekiawan Katolik dan juga dihadiri oleh almarhum Mgr. Herman Joseph Pandoyoputro yang kala itu masih sebagai Pastor Kepala Paroki Jember.
Tiga buah rencana besar yang diputuskan waktu itu adalah pemekaran paroki: (1) paroki kedua di Kota Jember; (2) Stasi Tanggul, dan(3) Stasi Ambulu. Stasi Tanggul dan stasi Am-bulu telah menjadi paroki sedangkan paroki kedua sudah dimulai dirancang. Romo Hen-rikus Suwaji, O.Carm. sebagai Pastor Kepala Paroki membentuk tim kecil sebagai tim inti untuk kemudian diputuskan dalam rapat pleno DPP.
Adapun rancangan pembentukan paroki kedua di Jember dibagi dalam tiga tahap. Ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Pembagian wilayah umat berdasarkan rayon yaitu rayon barat, pusat, dan rayon timur. Kedua, Rayon Barat menjadi Stasi Mandiri yang didasarkan pada SuratKeputusan Keuskupan Malang pada 10 Mei 2017 yang telah diumumkan Romo Henrikus Suwaji, O.Carm. dalam perayaan ekaristi pada tanggal 4 Juni 2017. Kegiatan ini berlanjut pada Sabtu 17 Juni 2017. Dalam Perayaan Ekaristi Kudus di Kapela Hati Tersuci Santa Perawan Maria tersebut diadakan pelantikan Dewan Pengurus Stasi Mandiri dengan Romo Yulius Agi Harianto, O.Carm. sebagai Romo Pembina Stasi dan bapak FX. Sutikno Leksono Widodo sebagai Ketua Stasi. Ketiga, Stasi Mandiri kemudian ditingkatkan menjadi Kuasi Paroki berdasarkan Keputusan Keuskupan (Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm) pertanggal 10 November 2017.

Puji Tuhan, Paroki Santo Yusup Jember telah menancapkan Tonggak Sejarah Pemekaran Paroki yang terus akan dikenang sepanjang masa.